Rabu, 19 Agustus 2009

BERSATULAH INDONESIA!!!


Indonesia, sebuah kata yang akan terpatri selama hayat dikandung badan. Sebuah negeri yang dengan cinta dan kasih sayang alamnya telah memberikan segala yang dimilikinya buat hidupku. Lautnya, Gunungnya, Sungainya, Hutannya, Buminya, semua ia persembahkan bagi kami anak-anak pertiwi. Disinilah darahku tertumpah, disinilah aku melewati masa-masa kecilku, bermain, bernyanyi, menari, tertawa, menangis, dan bergembira ria. Menikmati sejuknya air sungai ketika kami berenang dan mencari ikan. Menikmati segala kebebasan dalam mengekspresikan kreativitas kami. Dan meluapkan segala yang tersimpan di dalam dada.
Indonesia, harus kita jaga bersama-sama dari tangan-tangan jahil yang hendak memporak-porandakan tatanan kehidupannya. Harus kita lindungi bersama-sama dari insan-insan yang hatinya telah terkotori oleh nafsu dan pemikiran merasa benar sendiri. Dari pengrusakan oleh sebagian anak-anak pertiwi, yang hatinya telah disusupi oleh kesombongan, kepongahan, kecongkaan, keserakahan, dan kebodohan.
Satu hal yang dapat kita lakukan untuk menghentikan mereka adalah Bersatu, ya kita harus bersatu padu, membersihkan jiwa dan pikiran kita dari segala sifat angkara murka dan keserakahan. Kita harus bersatu melawan setiap bentuk kejahatan dilingkungan sekitar kita masing-masing. Dengan cara kita saling perduli dan saling menjaga. Bumi Indonesia ini adalah milik kita bersama, jangan pernah rela ada darah yang menetes sia-sia disetiap jengkal tanah ini. Seperti tragedi terorisme yang acap kali mengusik kedamaian kita. Mengapa sampai terjadi? karena kita sudah hidup terkotak-kotak, tidak lagi memperhatikan dan perduli pada lingkungan sekitar kita, tetangga kita, dan sahabat-sahabat kita. Sehingga negeri ini menjadi sarang teroris, sarang penjahat, dan sarang koruptor. Seandainya saja kita saling menjaga dan mengingatkan dalam kebaikan, bersatu membangun negeri yang elok ini, dengan ijin Tuhan, kita akan senantiasa hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan. Maka bersatulah Indonesia, bersatu memerangi segala bentuk kejahatan di bumi Indonesia.

[He he... lumayan Juara 3 Lomba Karya Kita edisi Agustus 2009 dari Tiga Rambu-nya Mas Iwan Fals - http://www.iwanfals.co.id/news/view/id/235]

Jumat, 07 Agustus 2009

Ketika Aku Mati


Ketika aku mati nanti......

Biarkan bumi menelan semuanya
Jika ternyata tanah adalah kuburku.
Biarkan samudra melarutkan semuanya
Jika ternyata air adalah pelabuhanku.
Biarkan bara panas menghanguskan semuanya
Jika ternyata api adalah tungkuku.

Ketika aku mati nanti....

Biarkan kuburku tanpa nisan
Jika ternyata kuburan adalah tempat tidurku.
Biarkan aku lenyap dalam kesenyapan
Jika ternyata kehampaan dan kekosongan adalah rumahku.
Biarkan aku terbang bersama angin malam
Jika sang angin adalah kendaraan moksha-ku.
Yang akan membawaku terbang kehadapan-NYA
Untuk bersujud dan bersimpuh di Kaki-NYA.

share on facebook

Selasa, 14 Juli 2009

Yogyakarta


Dari puncak plawangan
Disisi selatan gunung merapi
Kupandang Yogyakarta
Disela tetesan hujan gerimis

Kulihat ada kedamaian
Kesederhanaan dan keluguan
Meskipun aku tau
Banyak cibiran untukmu

Biarlah!
Aku tak perduli
Aku tetap mencintaimu
Aku selalu merindukanmu
Aku sedih berpisah denganmu

share facebook

Kebahagian Sejati

Cinta, belum berarti
Manakala ia mengikat hati
Kebebasan, takkan berarti
Manakala ia lepas kendali
Kebahagian, jadi tak berarti
Manakala tersesali kepergiannya
Kebahagian sejati.......
Hanya ada dalam hati
Hati yang sadar akan dirinya.

share on facebook

Purnama Sidi


Disela semilirnya angin malam
Berhembus dari Tangkuban prau
Terdengar serak burung malam
Mengigau dipucuk pohon randu

Awan merah jambu
Bergelantungan dibatas cakrawala
Menatap rembulan tua
Mengharap pancaran sinarnya

Semburat malas wajah purnama
Terhimpit keresahan mega mendung
Mencari-cari celah untuk tersenyum
Menyibak tirai keresahan jiwa

Setapak kaki perjalan hidup
Berangsur meninggalkan kehidupan
Berjalan kealam maya nan nyata
Tak akan ada rasa sesal
Dalam jiwa nan tenang

Firasat


Saat lelap dalam buaian mimpi
Selintas angan semu menerpa
Sekilas senyuman mencipta janji
Penantian yang akan terhenti
Tersentak dikeheningan suasana
Firasat batin berkata, bukan!
Hanya teriakan memanggil
Sebuah harapan telah luluh
Bersama tetes-tetes peluh
Bersimpuh dihadapan-NYA
Bertanya-tanya akan sabda-NYA
Benarkah ini garis kehidupannya.

Ajaran-MU


Rabbi, Kau ajari aku
Pelajaran tentang kehidupan
Rabbi, Kau ajari aku
Pelajaran tentang keikhlasan
Rabbi, Kau bimbing aku
Berjalan menuju Kehadlirat-MU
Rabbi, Kau buka bashirahku
Untuk merenungi ke-Agungan-MU
Tak perlu aku berteriak-teriak
Agar suaraku menembus langit ke tujuh
Untuk berbicara dengan-MU
”Aku dekat, lebih dekat dari nadi lehermu”
Rabbi, aku ingin selalu bersama-MU
Aku ingin tenggelam dalam kuasa-MU
Aku ingin menyelam di luasnya Cinta Kasih-MU
Rabbi, terimalah aku
Bimbinglah jiwaku, untuk kembali kepada-MU.