Kamis, 18 Juni 2009

‘Bintang Fajar’ itu telah pergi


“Mbak, ada tamu tuh di depan” tiba-tiba febi mendekati aku dan memberi tahukan ada tamu untukku.
“Siapa feb?” tanyaku sambil masih konsentrasi pada pekerjaanku.
“Nggak tahu mbak, bapak-bapak setengah baya bersama anak kecil. Buruan mbak, ditemui dulu. Biar aku yang membereskan pekerjaan itu.” Jawab febi sambil bersiap-siap mengambil alih pekerjaanku.
“Udah mbak, tinggalin sana. Kasihan lho, sepertinya dari jauh.” Sergah febi sambil merebut keyboard dan tempat aku duduk.
Aku segera beranjak ke ruang tamu kantorku. Aku tertegun, darahku berdesir, jantungku berdegub kencang sekali. Seakan-akan tak percaya dengan apa yang kulihat pagi itu.
“mas satrio…..” gumamku perlahan bahkan hampir tidak bersuara.
Ya, dia mas satrio. Mas satrio yang dulu pernah mengisi hari-hariku, sepuluh tahun yang lalu. Aku pernah sekali bertemu dengannya saat ada rekrutasi disebuah perusahaan di Jakarta; lima tahun yang lalu.
Pria itu berdiri dari duduknya, tersenyum dan mengulurkan tangannya sambil berkata
“Assalamualaikum, apakabarnya jeng?”
Aku meraih tangannya dengan gemetar dan perasaan bergetar. “E.. ee… waalaikum salam mas” jawabku tersendat.
“Alhamdulillah kabarku baik mas. Mas… sa.. satrio gimana kabarnya?”
“E.. silahkan duduk mas…” jawabku kemudian sambil mempersilahkannya duduk kembali.
“Terima kasih Jeng.” Sautnya sambil kembali ke tempat duduknya semula. Sementara aku mengambil tempat duduk dikursi panjang di hadapannya.
“Kabarku alhamdulillah baek juga jeng. Jeng rasti masih ingat saya to?” Lanjutnya kemudian sambil melepaskan senyuman. Belum sempat aku menjawabnya ia sudah beranjak berdiri sambil berkata “Oh iya…. Sebentar jeng.”
Mas satrio berdiri dan bergegas keluar dari ruang tamu. Sejenak kemudian ia sudah kembali dengan menggandeng seorang gadis kecil nan cantik dan lincah.
“E… Tiara. Salim dulu sama tante ya nak ya”
“Ini Tiara jeng, anakku satu-satunya.” Mas satrio memperkenalkan putrinya sambil membimbing tangan putrinya untuk bersalaman denganku. Tiara meraih tanganku dan menciumnya.
“Aduh pinternya anak cantik…” aku membalas dengan mencium pipinya yang merah merona itu. Ingin rasanya aku mencubitnya.
“Oh iya tiara, mana oleh-oleh yang tadi tiara persiapkan buat tante.” Mas satrio bertanya kepada putrinya.
Tiara tersenyum kemudian berjalan ke belakang kursi tempat ayahnya duduk, dan beberapa saat kemudian sudah berdiri kembali dihadapanku sambil mengulurkan sebuah bungkusan berwarna merah muda kepadaku.
“Apa ini sayang?” aku menerima bungkusannya sambil memeluknya. Aku sudah mulai bisa menguasai keadaan sekarang dan bisa merasa rileks kembali.
“Oleh-oleh buat tante.” Jawabnya sambil beranjak duduk disampingku. Aku tersenyum dan membelai-belai rambutnya yang lurus dan halus.
“Oh iya mas. Kok berdua saja, mana bundanya tiara?” aku bertanya sambil memalingkan wajah kearahnya.
Kulihat mas satrio hanya tersenyum saja, tanpa ada sepatah katapun yang terucap untuk memberikan jawaban atas pertanyaanku.
“Tante…. Sekolahnya luas sekali ya tante?” Tiba-tiba tiara mengajukan pertanyaan kepadaku.
“Oh iya sayang…. Ini namanya sekolah terpadu. Tiara mau sekolah disini?” aku balik bertanya kepadanya.
“hi.. hi…. Mau. Memang ada sekolah TK-nya?” dia tertawa kecil sambil kembali mengajukan pertanyaan.
“Oh ada dong, sayang. Kalau Tiara sekolah disini, nanti dari TK bisa langsung ke SD dan SMP disini sekalian. Mau tiara sekolah disini?” aku rasa tiara adalah anak yang cerdas dan lincah, sinar matanya begitu berbinar-binar menampakkan sesuatu yang luar biasa kelak dikemudian hari. Kami kemudian terlibat dalam pembicaraan yang sepintas-sepintas, kurang lebih setengah jam mas satrio berbincang-bincang denganku saat itu.
“E.. jeng. Disini penginapan yang terdekat dimana ya?”
“Kami tadi dari bandara langsung menuju kesini, dan belum sempat mencari tempat istirahat.” Mas satrio memotong pembicaraanku dengan tiara.
“Oh, sebentar mas. Aku agak-agak kuper untuk urusan yang satu ini mas.” Aku beranjak dari tempat dudukku untuk menanyakan kepada teman-teman kantorku, dimana kiranya hotel yang layak buat mas satrio beristirahat.
Yah, aku tahu sih ada beberapa hotel di sekitar tempat aku bekerja, tapi aku perlu pertimbangan dari temen-temen juga yang sudah lebih paham dengan seluk beluk kota ini. Setelah mendapatkan saran dari beberapa temanku, aku kembali menemui mas satrio di ruang tamu. Aku lihat mas satrio sepertinya sedang terlibat diskusi kecil dengan tiara sambil melihat-lihat ikan hias di aquarium yang sengaja di pasang diruang tamu kantorku.
“Aduh… sedang pada serius sekali ya.” Aku menyapa mereka berdua.
“Ini mas, mungkin mas satrio bisa coba menginap di hotel kencana ini saja mas. Tempatnya tidak jauh dan suasananya juga nyaman. Ada restorannya juga, kata teman-teman; makanannya juga enak-enak. Cocok lah dengan selera mas satrio.”
“Aku telpon kan dulu ya mas, buat booking room-nya.”
“e.. e.. tidak usah, tidak usah jeng. Wes ben aku kesana aja langsung.”
“Kira-kira kalau dari sini saya musti berjalan ke arah mana? Nggak jauh kan?” jawab mas satrio sambil menanyakan dimana tepatnya hotel kencana yang aku maksud.
“Oh gitu. Mas satrio bisa jalan kaki saja dari gerbang depan sekolah, nanti jalan aja ke sisi kiri ya. Nggak jauh kok mas, masih satu jalan dengan sekolah ini, paling kira-kira 10 menitan lah.”
“Apa mau aku temani kesana mas?”
“O.. jangan-jangan. Wes ben aku sama tiara kesana saja sendiri. Nanti malah mengganggu jam kerja jeng rasti.”
“Oh iya, boleh aku minta nomor hp-nya. Nanti malam kalau ada waktu senggang bolehkan aku mengundang jeng rasti makan malam. Besok liburkan?” lanjutnya.
“Oh ada mas. Insya Allah nanti malam ada waktu kok.”
“Ini nomor hp saya ada di kartu nama ini.” aku berikan sebuah kartu namaku kepada mas satrio.
Mas satrio menerimanya sambil membacanya sebentar kemudian memasukkannya ke saku kemejanya.
“Ok, kalau begitu aku pamitan dulu jeng. Aku rasa sudah terlalu lama mengganggu jam kerja jeng rasti. Sudah hampir setengah jam. Nanti aku sms kalau sudah dapat kamarnya.”
“Tiara…. Ayoo… kita istirahat dulu yukk sayang. Salim dulu sama tante ya.” Mas satrio memanggil tiara yang masih asyik mengamati ikan-ikan kecil di aquarium.
“Tante… tiara pulang dulu ya.” Ucapnya ketika menjabat tanganku untuk yang kedua kalinya.
“Iya sayang…. “ aku tersenyum menyambutnya.
“Ya sudah jeng, aku pergi dulu ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam…” balasku sambil mengantarkannya sampai ke pintu depan ruang tamu. Aku lambaikan tanganku ke arah tiara untuk membalas lambaian tangannya saat mereka berdua mulai menyusuri jalan setapak menuju jalan raya.

------00-------
Malam itu mas satrio jadi mengundang makan malam aku. Lucu juga kalau diingat-ingat, harusnya aku yang mengundang makan malam mas satrio. Bukankah aku yang menjadi tuan rumah di kota itu, bukan mas satrio. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, mas satrio lah yang mengundang makan malam aku.
Mas satrio mengundang makan malam kami di hotel kencana tempatnya menginap. Kami? Ya kami. Sebab malam itu aku datang tidak sendirian, tetapi aku ditemani oleh calon suamiku. Sekalian mau memberikan kejutan buat mas satrio. Ya aku pernah bilang ke mas satrio, saya bisa menjadi apapun yang saya mau. Bahkan dengan keputusan yang kadang-kadang sangat mengejutkan.
Malam itu suasana begitu hangat, kami berempat berbicara dengan akrab layaknya sebuah keluarga yang telah lama tidak bersua. Mas satrio begitu rileksnya berbincang-bincang dengan calon suamiku. Sementara aku bercanda dan bersenda gurau dengan Tiara, yang harus aku akui kehebatannya dan kecerdasannya untuk anak kecil seukuran dia. Mungkin menurun dari bapaknya, mas satrio.
“Mas satrio, mau tinggal berapa lama disini?” aku dengar calon suamiku bertanya ke mas satrio tengtang rencana kunjungannya di kota kami.
“Rencananya sih dua atau tiga hari disini. Tapi sepertinya nggak jadi, ada keperluan mendadak besok senin lusa. Tadi ada telepon dari Jakarta, katanya senin saya harus datang ke kantor.” Jawab mas satrio.
“Wah kok terburu-buru sekali mas. Bukannya mas satrio sudah mengajukan cuti?” sambung calon suamiku.
“Iya, lha wes mau gimana lagi mas. Wong katanya penting banget.” Mas satrio tersenyum menjawab pertanyaannya. Tak terasa malam semakin larut, tiara sudah sedari tadi tertidur dipangkuanku, mas satrio pun sudah terlihat tidak bersemangat lagi berbincang-bincang. Sebab dia lebih banyak diam dan hanya menimpali pembicaraan kami. Mungkin dia juga sudah lelah dan ingin istirahat, kami pun putuskan untuk berpamitan pulang.
"Mas, kami mau pulang dulu. Sudah malam sepertinya." Aku meminta ijin untuk pulang.
"Oh gitu, ok lah.... senang bisa bertemu dengan kalian berdua hari ini." jawabnya sambil tersenyum, tetapi kali ini aku rasa ada senyuman lain yang tergambar diwajahnya. Mas satrio, mengambil alih tiara dari gendonganku, dan saat itu tatapan mata kami beradu tanpa sepengetahuan calon suamiku. Hatiku bergetar menerima tatapan mata mas satrio, sebab aku lihat ada sesuatu yang lain yang dipancarkan dari sorot matanya yang terlihat sendu.
Keesokan harinya, ketika aku masih sibuk dengan pekerjaan rumahku, tiba-tiba ada sms masuk ke HP-ku. Aku bergegas untuk membuka dan membacanya.
“Jeng, aku dan tiara sudah boarding untuk penerbangan Lion jam 10.00. Maaf, tadinya aku mau memintamu untuk menemani aku membimbing dan membesarkan tiara. Tapi rupanya aku sudah terlambat. Selamat ya jeng, Semoga jeng rasti bahagia selamanya.”
Aku bagaikan tersengat aliran listrik tegangan tinggi ketika membaca sms yang dikirimkan oleh mas satrio, pagi itu. Tubuhku bergetar dan serasa lemas, jadi semalam itu mas satrio telah berbohong kepada kami, dengan mempercepat rencana kunjungannya. Rupanya dia kecewa dengan kejutanku semalam.
“Maafkan aku mas. Aku tidak tahu maksud kedatanganmu yang tiba-tiba kemarin itu.” Tanpa terasa air mataku jatuh membasahi pipiku; Ya aku tahu mas satrio masih menyimpan perasaannya buat aku, dan beberapa hari yang lalu sebelum ini memang mas satrio banyak bercerita banyak hal. Mas satrio beberapa kali mengatakan lewat email-emailnya bahwa dia masih mencintai aku seperti dulu saat kita masih jalan bersama, sampai suatu ketika pilihan orang tua-lah yang memisahkan kami. Aku menjadi merasa sangat bersalah dan berdosa. Dia juga sempat menanyakan tentang kesedianku untuk kembali bersamanya, dan aku bilang “aku akan memikirkannya kembali.” Rupanya hal itu ditangapi serius oleh mas satrio.

--------00--------

“Mas satrio…. “ aku memanggil seseorang yang berdiri di tepat di depanku pada acara wisuda anakku yang pertama Raditya.
“Loh… sampeyan jeng…. Jeng.. Jeng rastri ya!” Mas satrio berbalik dengan raut wajah terkejut dan terkesan surprise. Ya aku masih mengenali mas satrio, meskipun kini dia sudah banyak berubah. Rambutnya sudah mulai dipenuhi dengan warna putih, wajahnya juga sudah mulai dihiasi dengan lipatan-lipatan dibeberapa bagian. Tapi satu hal yang tak-akan berubah dalam diri mas satrio. Gaya bicaranya dan senyumannya, yang aku rasa masih sama dengan yang dulu.
“Sedang menghadiri wisuda juga?” tanyanya begitu bergairah, aku membaca masih ada rasa yang terpendam dihatinya.
“Wisudanya raditya mas, anak pertamaku.” Sautku pendek.
“Lha mana suami dan anakmu jeng?” Tanya mas satrio sambil melemparkan pandangannya berkeliling mencari suami dan anakku, ketika melihat aku berdiri hanya sendirian diruang itu.
“Lagi ada keperluan. Nanti kan kesini lagi mereka.”
“Mas satrio sendiri?” aku balik bertanya.
“Aku juga lagi ngeterke Tiara wisuda juga?” jawabnya.
“Oh baru lulus juga ya?”
“Iya… baru selesai S2-nya. Lha itu apa anaknya kesini.” Mas satrio menunjukkan jemari tangannya ke arah seorang gadis bertoga yang sangat-sangat cantik.
Aku alihkan pandanganku mengikuti telunjuk jarinya, aku tidak akan lupa dengan sorot matanya seperti 20 tahun yang lalu. Sorot mata seorang gadis kecil yang begitu manja kepadaku.
“Tiara ini, ibu rastri. Salim dulu nak.” Dengan sopan tiara menjulurkan tangannya dan mencium tanganku.
“Tiara masih ingat nggak nduk? Dulukan kita pernah ke tempat ibu rastri ini” Tanya mas satrio kepada tiara.
Tiara hanya tersenyum lebar menatap aku.
“He he… sudah lupa ya. Iya lha wong dulu kamu masih kecil waktu bapak ajak kesana. Masih 5 tahun.”
“Selamat ya nak tiara, sekarang sudah besar dan sudah lulus S2 lagi.” Aku menyela pembicaraan.
“Trus rencananya gimana habis ini, kapan mau ngasih cucu ke bapak?” aku mengajukan pertanyaan sembari menggoda tiara.
Tiara tersenyum tersipu sambil berkata “Ah… belum kok tante.”
“he he… mbuh itu jeng. Malahan habis wisuda ini aku arep ditinggal dhewekan. Kebetulan tiara ini kan wes dapat kerjaan di departemen luar negeri, dan katanya mau dikirim jadi diplomat di Belgia apa di Belanda. Aku sendiri yo rak mudeng.”
“Wah… yo hebat to mas. Putrine mas satrio ini, jarang-jarang lho mas, masih muda wes dipercaya menjadi duta Negara.” Aku menyatakan kekagumanku pada tiara.
“he he… lha tapi aku wes tuwa jeng. Sing ngurusi terus sapa aku iki mengko” mas satrio tertawa sambil memeluk anaknya.

Itulah pertemuan terakhirku dengan mas satrio 20 tahun kemudian setelah terakhir kali bertemu. Dan entah suatu kebetulan atau bagaimana, ternyata kami sekarang tinggal sekota lagi di kota gudeg Yogyakarta ini. Suatu hal yang tak terduga sebelumnya, dan ini menjadi jalan bagi kami untuk kembali mejalin silaturahmi. Tentu hubungan silaturahmi yang masih dalam koridor yang benar.

Dan pagi ini, tepat dihari ulang tahun mas satrio yang ke 63. Aku masih duduk termangu di teras rumah sakit sardjito. Air mataku masih menetes membasahi pipiku yang sudah mulai menua juga. Semalaman aku menemani mas satrio disaat-saat terakhirnya. Dan tadi pagi-pagi ketika adzan subuh berkumandang, tiba-tiba mas satrio terbangun dari tidurnya. Aku melihatnya dia begitu bergairah dan ceria, matanya berbinar-binar menatap kepadaku. Sorot mata yang tajam, setajam saat dia masih muda dahulu.
“Jeng…. Kok sampeyan ada disini? Aku dimana ini jeng” tanyanya. Aku tersenyum senang karena mas satrio terjaga dari mati suri-nya, ia sudah koma selama 3 hari karena terpeleset ketika tracking di kaliurang.
“Iya mas… Mas satrio di rumah sakit. Mas satrio habis jatuh saat dikaliurang kemarin itu” jawabku perlahan, aku pegang tangannya dan kuletakkan diatas dadanya. Terasa olehku hembusan napasnya yang lembut dan tenang.
Mas satrio tersenyum lembut. Kemudian dia berkata “Jeng bisa tolong bantu aku bangun… aku mau ambil air wudhu. Aku mau sholat subuh.”
“mas… mas tidur saja dulu. Aku panggilkan dokter ya.” Aku menahan mas satrio agar tetap berbaring.
“Jangan jeng… tidak usah. Bantu aku untuk bangun saja.” Akhirnya aku turuti kemauannya.
“Liat jeng aku sudah sehat, aku nggak apa-apa. Jeng rastri kok disini sendirian, mana suami jeng rastri?” tanyanya saat kubimbing ia turun dari tempat tidurnya.
“Ada mas, baru saja dia pamit pergi ke mesjid katanya.”
“Sudah jeng, aku kuat berjalan sendiri ke kamar mandi.” Dengan langkah yang tenang seakan-akan tidak menunjukkan kalau mas satrio sedang dalam keadaan sakit parah. Sejenak kemudian mas satrio sudah kembali dari kamar mandi dalam keadaan suci setelah berwudlu.
“Mau sholat dimana mas?” tanyaku sambil memegang sajadah.
“Wes disini wae jeng.” Aku membantu memasangkan sajadah di samping tempat tidur sesuai dengan keinginannya.
“Bismillahirohmanirohim… Allahu akbar…”
Sejenak kemudian mas satrio sudah khusuk menjalankan shalat subuh begitu tenangnya ia, aku menunggu di kursi di dekat jendela. Aku buka gorden jendela, dan tampak olehku sebuah bintang yang berpijar sangat terang. Aku teringat akan bait-bait puisi yang pernah dituliskan mas satrio untukku. Aku masih menyimpannya puisi itu sekarang. Aku tersenyum menatap bintang itu mengingatkan akan cerita-cerita lama antara aku dan mas satrio.
Lamunanku buyar saat aku sadar kenapa mas satrio lama sekali sujudnya, menurutku harusnya sekarang mas satrio sudah tahiyat akhir. Aku berdiri dari kursi dan menghampiri mas satrio yang masih tersujud di sajadah. Sujud yang aku rasa sangat tenang dan khusyuk…
“Mass…” aku beranikan diri menganggu ke khusyukannya.
“Mass…. Mas satrio.” Aku ulangi memanggil namanya.
“Mas…” aku beranikan diri untuk menyentuh tubuhnya dan berusaha membangunkannya.
“Mas…. Masya Allah…. Mas… Innalillahi…” air mataku jatuh berderai tak kuasa aku menahan tangisku yang serta merta pecah. Ternyata mas satrio sudah melakukan perjalanan terakhirnya menghadap Sang Khalik.
Kini aku hanya bisa termenung diteras rumah sakit sardjito ini. Bintang Fajar itu telah pergi, pergi dengan membawa janji setianya. Semua janji-janjinya sudah terpenuhi, aku ingat mas satrio pernah bercerita bahwa dia ingin meninggal dalam keadaan sujud dimana jarak antara mahluk dan Sang Penciptanya sangatlah dekat. Dan dia juga berjanji akan selalu menyisakan ruang dalam hatinya untukku. Semua itu sudah dipenuhinya….

Bintang Fajar

Kala kau terjaga dari tidur malammu
Ketika kau terbangun dari mimpi indahmu
Sempatkanlah sejenak menengok aku
Disisi timur tempatmu berdiri.....
Kala sang fajar masih samar-samar bercahaya.

Aku menunggumu disitu...
Ada salam yang hendak kusampaikan
Dari seseorang yang merindukan cintanya.
Disana akan kau dapati aku yang bersinar terang.

Sadarilah bahwa disaat yang sama
Ada seseorang disisi lain bumi ini
Sedang tersenyum menatapku juga
Menitipkan salamnya buatmu.


Disana kelak dia akan berdiam
Menunggu dan menanti
Kehadiran cintanya yang sejati
.


Itulah puisi yang pernah dia berikan kepadaku dulu. Kini Bintang Fajar itu telah meredup seiring dengan fajar yang makin meninggi. Aku hanya bisa berdoa dan berkata…. Selamat jalan Bintang Fajarku.

[seperti yang akan di ceritakan rasti 29 tahun lagi]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar